Wahyu Learning : smart city di indonesia

Arsip Blog

Minggu, 23 Oktober 2016

smart city di indonesia

KOTA DI INDONESIA SEBAGAI SMART CITY

Bandung

    Pemerintah Kota Bandung berupaya menyelesaikan masalah-masalah di kotanya dengan solusi yang juga kreatif yaitu menjadikan Bandung sebagai KOTA CERDAS. Dikomandoi oleh pemimpin berjiwa kreatif, Ridwan Kamil dipercaya sebagai pemimpin di Kota Kembang dan terpilih di tahun 2013. Pria yang memiliki latar belakang sebagai arsitek kelahiran kota kembang dengan prestasi kelas dunia ini. Menerapkan beberapa kebijakan dengan mensosialisasikan segala kebijakan dengan menggunakan teknologi informasi melalui media sosial, yaitu Twitter dan Facebook. Program-program yang dilakukan, antara lain:
  1. Gebrakan awal dengan mewajibkan seluruh SKPD (Satuan Kerja Pemerintah Daerah), camat dan lurah di Bandung untuk memiliki akun Twitter. Ini adalah kiat Ridwan Kamil merevolusi cara berkomunikasi antara pemerintah dan warga supaya ada saluran komunikasi langsung yang terbuka setiap saat.
  2. Kanal YouTube resmi Pemkot Bandung yang dikelola Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Bandung, menghimbau agar tiap aktivitas pemerintah diabadikan dalam wujud foto/video, misal program perbaikan jalan, penertiban lalu lintas dan razia oleh aparat bisa dilihat di akun Twitter SKPD bersangkutan ataupun melalui kanal You Tube
  3. Mendirikan ruang lingkup Smart city yang mencakup antara lain bidang transportasi, kesehatan, pendidikan, energi, e-governement, lalu lintas, e-payment, dll.
  4. Melatih jajaran aparat yang lebih smart dan tech-oriented, serta memulai inisiatif open government. Bekerjasama dengan pihak swasta dalam penyediaan jalur fiber opticdan bandwidth internet. Saat ini jaringan sudah terhubung ke seluruh kantor SKPD dan beberapa kamera CCTV milik Pemkot.
  5. Bandung telah mewujudkan pusat kendali kota yaitu Bandung Command Center (BCC), mencontoh kisah sukses manajemen kota Seoul, ibukota Korea Selatan. Tujuannya adalah untuk memberikan layanan akses yang cepat dan efisien kepada masyarakat untuk memberikan bantuan terhadap permasalahan kota, secara 24 jam, dimana saja dalam wilayah pemerintahan Kota Bandung. Hal tersebut dimungkinkan karena di ruangan yang desainnya mirip kokpit pesawat Star Trek ini, banyak sekali data yang bisa diakses. Misalnya laporan dan opini warga dari aplikasi dan media sosial, pantauan kamera CCTV dari jalan raya, peta kondisi lalu lintas, GPS trackeruntuk melacak posisi kendaraan dinas, maupun data-data internal dari semua SKPD.

Tekad Ridwan Kamil Jadikan Bandung Smart City

        Wali Kota Bandung Ridwan Kamil berniat menjadikan Bandung sebagai Kota Pintar seperti Singapura. Untuk mengejar level negeri singa, Ridwan Kamil harus membuat banyak aplikasi smartphone dalam masa kepemimpinannya yang tersisa 3 tahun lagi.
“Target saya ngejar Singapura. Itu contoh sebuah kota dunia yang standar pelayanannya internasional,” kata Ridwan Kamil, di Balai Kota Bandung, Kamis, 4 Januari 2016.
       Namun rasanya perlu waktu panjang untuk mengejar Singapura dalam hal pelayanan masyarakat berbasis online. Pasalnya, hingga saat ini Singapura sudah memiliki 1.600 jenis aplikasi, mulai hal remeh-temeh hingga aplikasi yang penting.
“Dengan smart city, Bandung mah ngejar 1.000 aplikasi, itu target di zaman kepemimpinan saya,” tuturnya.
       Saat ini, Pemerintah Kota Bandung telah memiliki 300-an jenis aplikasi. Kebanyakan aplikasi tersebut untuk pelayanan internal pemerintahan.
“Jadi di mana pun ada kebutuhan, untuk mengefisienkan kita pasti bikin apps-nya,” ucapnya.
Dalam waktu dekat, Ridwan Kamil mengaku akan meluncurkan dua aplikasi baru. “Mungkin dalam waktu dekat ini kita luncurkan aplikasi mengantre dan ojek,” tandasnya.

 KONSEP Smart City Bandung

        Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mengatakan konsep smart city ini bertujuan untuk mempermudah segala urusan dengan dukungan konektivitas tinggi dari pemanfaatan teknologi informasi (TI).
Konsep ini, pertama kali diterapkan di ‘Kota Kembang’. Salah satu penerapan smart city adalah layanan akses internet di taman-taman kota. Fasilitas itu akan menarik warga untuk berkunjung ke taman. Dengan demikian, fungsi taman sebagai ruang publik pun akan kembali dengan sendirinya. Fasilitas serupa juga dibangun di tempat-tempat ibadah, seperti masjid, gereja dan lainnya. Cara seperti ini akan memudahkan masyarakat dalam mengakses internet meski sedang beribadah. Selain akses penyediaan akses internet di ruang publik, pihaknya juga berencana menerbitkan kartu pintar. Kartu ini salah satunya bisa digunakan masyarakat untuk membayar tarif trasportasi seperti angkot, bus, dan lainnya.
Demi mendukung sistem pembayaran ini, pihaknya akan terlebih dulu melakukan penataan angkot. Pembangunan sektor transportasi di Kota Bandung juga ada ditunjang dengan pengadaan bus ukuran 3/4 serta Monorel. Selain itu, pihaknya juga akan menerbitkan kartu yang digunakan untuk membayar tarif parkir. Nantinya, petugas parkir akan memiliki smart phone untuk mendeteksi dan mengurangi saldo pemilik kartu tersebut.
Bandung Smart city adalah konsep sebuah kota yang memiliki koneksi terintegrasi dalam berbagai bidang hingga memberikan dampak praktis dan efisiensi dalam pengelolaan kota, dari permasalahan penanggulangan kemacetan, penumpukan sampah, perbaikan jalan rusak, mengetahui kontur tanah suatu daerah, apakah daerah tersebut cocok untuk didirikan bangunan atau sebagai lahan pertanian.
Berikut beberapa contoh data mengenai permasalah kemacetan di Pemerintah Kota Bandung yang sudah dispasialkan :
kemacetan.jpg
(Peta Kemacetan di daerah kampus LIPI Pemerintah Kota Bandung)
pembangunan jalan.jpg
(Peta Kerusakan jalan di daerah Gerbong Hilir Pemerintah Kota Bandung)
jumlah penduduk.jpg
(Peta jumlah penduduk kecamatan Cidadap Pemerintah Kota Bandung)
Dari informasi yang disampaikan melalui data yang sudah dispasialkan mengenai jumlah penduduk suatu daerah, Kemacetan dan kondisi jalan yang rusak dapat dijadikan pedoman untuk pengambilan keputusan langkah apa yang akan diambil selanjutnya untuk mengatasi masalah kemacetan di daerah tersebut.

Langkah Bandung dalam Mengimplementasikan Smart City

       Saat ini, pemanfaatan teknologi informasi sudah semakin luas. Tidak lagi hanya digunakan untuk perangkat PC atau smartphone saja, teknologi informasi juga sudah mulai masuk ke berbagai sektor lainnya. Biasanya, pemanfaatan teknologi ini sering disebut dengan terminologi smart. Contohnya smart TV, smart carsmart home, dan lain sebagainya. Penggunaan kata smart menggambarkan bahwa objek tersebut terintegrasi dengan teknologi informasi dan komunikasi sehingga bisa menjawab berbagai masalah yang ada dan melakukan lebih banyak hal untuk mendukung aktivitas penggunanya.
Tidak mau kalah, pemanfaatan sistem dan teknologi informasi pun kini sudah masuk ke ranah pemerintahan. Saat ini, teknologi informasi mulai digunakan untuk layanan perkotaan atau lebih dikenal juga dengan istilah smart city. Beberapa contoh kota yang telah menjalankan program smart city adalahAmsterdamBarcelonaStockholm, danSouthamptonPada tahun 2014, Frost & Sullivan mengidentifikasi delapan aspek dari smart city.
Delapan aspek tersebut yakni smart governance, smart energy, smart building, smart mobility, smart infrastructure, smart technology, smart healthcare, dan smart citizen. Kota yang pintar adalah kota yang mampu memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam berbagai aspek tersebut. Salah satu kota di Indonesia yang menjadi kandidat kuat sebagai smart citypertama di tanah air adalah Bandung.

Kota Bandung serius ingin menjadi smart city

        Di bawah kepemimpinan Walikota Ridwan Kamil, kota Bandung terlihat sangat serius membawa jargon smart city. Sebenarnya proyek IT di Bandung sudah ada sejak lama. Berbagai proyek pengadaan dan pengembangan teknologi informasi sesungguhnya sudah dilakukan dari era pemerintahan sebelumnya. Dengan membawa jargon Bandung Smart City, sepertinya Ridwan Kamil tengah mencoba untuk meningkatkan kesadaran serta dukungan dari berbagai pihak terkait pentingnya smart city.
Saat ini kota Bandung memiliki Dewan Pengembangan Bandung Kota Cerdas atau biasa disebut dengan Dewan Smart City. Dewan tersebut terdiri dari berbagai elemen yang ada di masyarakat kota Bandung maupun pemerintah kota Bandung. Beberapa nama yang terlibat adalah Ilham Habibie yang juga Ketua Pelaksana Dewan TIK Nasional, Prof. Dr. Ir. Suhono H. Supangkat yang menginisiasi Smart City Initiatives Indonesia, Budi Rahardjo dosen ITB yang juga aktif di komunitas Startup Lokal, hingga perwakilan dari komunitasstartup di Bandung yakni Yohan Totting dari Forum Web Anak Bandung (FOWAB). 
Pendekatan yang dilakukan oleh Ridwan Kamil selaku walikota memang merupakan pendekatan berbasis komunitas dan gotong royong. Banyak pihak yang diajak berkolaborasi untuk mewujudkan Bandung Smart City mulai dari komunitas, universitas, swasta, hingga negara-negara asing untuk menjadisister city atau kota yang diajak untuk menjalin kerja sama secara intensif di berbagai sektor.

Program yang sudah berjalan

      Program yang dijalankan olah kota Bandung untuk mewujudkan BandungSmart City pun sudah sangat banyak. Ada program-program yang fundamental seperti perbaikan fasilitas internet bagi seluruh kantor dinas, perapihan kabel-kabel di kota Bandung, pembentukan Dewan Smart City sebagai penasihat pemerintah kota dalam membangun smart city, dan lain sebagainya.
Selain itu, ada juga program populis yang bertujuan untuk mendapatkan dukungan dan partisipasi dari masyarakat seperti update harga pasar, pengawasan secara real time proyek-proyek pembangunan yang ada di kota, dan pengawasan titik-titik kemacetan yang langsung terhubung denganCommand Center. Bekerjasama dengan X-Igent, baru-baru ini pemerintah kota Bandung juga meluncurkan aplikasi mobile Panic Button untuk memberikan rasa aman bagi masyarakat di kota ini.
contoh-harga-komoditas-pasar-1024x576
Kombinasi program monumental dan populis dengan program pembangunan infrastruktur yang fundamental inilah yang membuat perkembangan smart citydi Bandung terbilang pesat dan positif. Secara kasat mata, masyarakat dan media bisa melihat langsung wujud dari Bandung Smart City sehingga mendapatkan dukungan yang baik. Lalu di belakang itu, pemerintah juga masih tetap membenahi berbagai sektor yang mungkin tidak terlihat tapi penting untuk kemajuan kota Bandung.

Dukungan berbagai elemen

        Kepedulian masyarakat Bandung terhadap terwujudnya Bandung Smart City terbilang sangat tinggi. Kota Bandung mendapatkan banyak sekali dukungan dan proyek kerja sama dari berbagai pihak. Insitut Teknologi Bandung (ITB), misalnya, sudah menandatangani perjanjian kerja sama (MoU) untuk mendukung pembangunan Bandung Smart City bersama dengan Telkomsel pada 16 Agustus 2014 lalu.
ITB juga memiliki laboratorium Smart City and Community Innovation Center (SCCIC) yang memang mendedikasikan program-program penelitiannya untuk kemajuan kota Bandung. Salah satu contohnya adalah penelitian yang dilakukan oleh Ventje Jeremias, peneliti di Laboratorium SCCIC di bawah bimbingan Prof. Suhono Harso Supangkat yang sedang menempuh S3 di ITB.
Ventje kini tengah meneliti pemanfaatan Internet of Things yang modulnya bisa digunakan untuk middleware platform Smart City. Sederhananya, platform ini merupakan sebuah sistem software yang dapat menghubungkan dan mengintegrasikan berbagai aplikasi yang kompleks dan arsitektur yang berbeda secara bersama-sama.
panic-button-1-1024x525.png
Bandung Command Center yang saat ini dimiliki oleh kota Bandung juga merupakan kolaborasi dari berbagai pihak. Bandung Command Center merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah kota Bandung dengan IBM dan Lembaga Afiliasi Penelitian Industri (LAPI) ITB. Saat ini, Bandung Command Center berfungsi sebagai pusat terkumpulnya data-data terkait dengan kebutuhan Bandung Smart City. Mulai dari SKPD, data dari masyarakat, sampai data dari internal ke luar, akan dipusatkan di sini. Aplikasi Panic Button Bandung juga terhubung langsung dengan Bandung Command Center.
Tak ketinggalan, vendor asal Cina Huawei ikut mendukung program ini dengan nama Safe City yang mencakup e-government, e-ticketing dalam sistem transportasi, rumah dengan teknologi terintegrasi, dan layanan darurat lainnya.
Dukungan dari komunitas yang ada di Bandung terhadap Bandung Smart City juga bisa dibilang sangat tinggi. Contohnya adalah komunitas Code4Bandungyang dipimpin oleh Pandu Kartika. Komunitas ini berfokus mempromosikan kolaborasi masyarakat dan pemerintah untuk menyelesaikan permasalahan kota dengan memanfaatkan teknologi informasi.
Program Code4Bandung sangat bervariasi, dari mulai advokasi dan pendampingan open data di pemerintah, aktivasi komunikasi dua arah masyarakat-pemerintah dengan forum dan diskusi, pembangunan aplikasi (civic technology), kampanye partisipasi publik, dan berbagai usaha lain untuk meningkatkan kolaborasi masyarakat dan pemerintah.
Contoh lain peran serta komunitas dalam membangun Bandung Smart City adalah komunitas Pizza Data. Prasetyo Andy Wicaksono, salah satu inisiator komunitas Pizza Data, memaparkan bahwa pihaknya fokus dengan data terbuka (open data). Penggunaan fitur ini membuat data bisa diakses secara bebas, terutama yang berkaitan dengan data publik. Komunitas tersebut sering mendiskusikan permasalahan di kota Bandung dan mencari solusi praktisnya dengan memanfaatkan data terbuka.

Tantangan yang harus dihadapi

        Bagaimanapun, mewujudkan Bandung Smart City bisa dibilang bukan merupakan perkara yang mudah. Ada banyak sekali rintangan yang harus dihadapi terkait dengan banyak sektor. Salah satu tantangan besar yang dihadapi adalah permasalahan terkait infrastruktur, koordinasi, dan sumber daya manusia.
Terkait infrastruktur, selain dari sisi pembangunannya, masih ada banyak masalah yang perlu dibenahi. Salah satu isu yang cukup penting adalah masalah kabel yang menjadi infrastruktur komunikasi utama masyarakat yang saat ini masih berantakan. Layanan internet bagi masyarakat juga belum merata dan optimal. Padahal, infrastruktur merupakan hal yang paling fundamental karena ketika infrastruktur sudah rapi, pembangunan yang ada “di atasnya” bisa dilakukan dengan cepat.
pizza-data-2.jpeg
Isu lainnya yang menjadi tantangan adalah koordinasi. Ini merupakan masalah klasik yang sering terjadi di banyak sektor, baik itu pemerintah, bisnis, akademik, maupun komunitas. Diperlukan koordinasi yang baik sehingga setiap elemen yang berpartisipasi dan berkolaborasi di dalam pembangunan Bandung Smart City bisa memberikan kontribusi yang maksimal. Untungnya, Bandung merupakan salah satu kota yang cukup terkenal dengan konsep gotong royong dan mementingkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi. Dengan adanya Dewan Smart City, harapannya tantangan ini bisa teratasi dengan baik.
Tantangan selanjutnya adalah masalah sumber daya manusia. Penggunaan teknologi informasi bagi generasi saat ini bisa dibilang sangatlah mudah dilakukan. Lain halnya dengan generasi sebelumnya. Ini tentu menjadi tantangan tersendiri untuk menyiapkan tidak hanya pegawai di pemerintah, tapi juga masyarakat di kota Bandung untuk bisa memahami konsep smart citydan memanfaatkan sistem yang ada.
bandung-comman-center-paw-1024x576.jpg
Semoga tantangan-tantangan tersebut bisa diatasi dengan baik oleh pemerintah kota Bandung, serta pihak-pihak yang mendukung proyek ini. Bandung memiliki modal yang sangat bagus untuk mewujudkan smart city di Indonesia. Didukung dengan walikota yang “melek” teknologi dan cakap dalam menjalankan tugasnya, Bandung memiliki banyak sekali komunitas baik itu komunitas IT maupun kreatif yang siap mendukung Bandung Smart City. Dari sisi edukasi, kota ini juga memiliki banyak universitas ternama yang siap mendedikasikan akademisinya untuk meneliti kota Bandung.
Dengan dukungan tersebut, seharusnya Bandung Smart City bisa segera terwujud dan berjalan dengan baik. Dan keberhasilan program ini nantinya tentu bisa diaplikasikan ke berbagai kota lain di Indonesia, yang pada akhirnya akan mendorong negara ini untuk maju dan mengejar ketertinggalannya dari negara-negara lain.

bandung-technology-institute.jpg

5 alasan mengapa Bandung bisa menjadi Silicon Valley-nya Indonesia

1. Bandung memiliki sumber daya manusia yang cukup untuk perusahaan teknologi

        Dengan lebih dari delapan juta orang penduduk, Bandung adalah kota terbesar ketiga di Indonesia, di bawah Jakarta dan Surabaya. Populasi penduduknya yang muda dan melek teknologi semakin mendukung ekosistem teknologi di kota ini. Menurut Ridwan Kamil, 60 persen warga Bandung berusia di bawah 40 tahun yang merupakan usia produktif untuk bekerja. Bandung juga merupakan kota dengan basis pengguna Twitter terbesar keenam di dunia.
Banyak orang Indonesia yang datang ke Bandung untuk belajar. Kota ini memiliki lebih dari 80 lembaga pendidikan tinggi termasuk perguruan tinggi teknologi terbesar di Indonesia, Institut Teknologi Bandung (ITB). Orang-orang muda ini bisa menjadi bakat besar, kata Ridwan, serta menjadi calon pengguna yang bagus untuk setiap perusahaan teknologi yang membuka kantor di Indonesia. Upah minimum kota Bandung juga sedikit lebih rendah dari Jakarta.

2. Startup friendly

        Ridwan Kamil yang juga merupakan seorang entrepreneur (ia merupakan lulusan master dari University of California, Berkeley, yang kemudian mendirikan Urbane Indonesia, sebuah perusahaan arsitektur, desain perkotaan, dan proyek). Ia paham betapa sulitnya bagi startup untuk beroperasi di tahun-tahun awal. Meskipun belum resmi menjadi kebijakan pemerintah setempat, Ridwan Kamil ingin membantu startup yang berbasis di Bandung. Ia memberikan sebuah contoh bagaimana ia menyediakan sebuah bangunan kosong sebagai kantor gratis untuk startup yang masih berada di tahun pertama mereka. Walikota Bandung juga berencana untuk memberikan insentif kepada perusahaan-perusahaan baru, misalnya pajak yang lebih rendah.
Beberapa startup teknologi asal Bandung yang menonjol adalah developer game Agate Studio, Digital Happiness, Nightspade1, dan Tinker Games, serta developer mobile Dycode, perusahaan outsourcing teknologi Walden Global Services, dan marketplace properti UrbanIndo. Bandung Digital Valley milik Telkom, komunitas teknologi khusus wanita IDGeeksGirls, dan komunitas teknologi Bandung FOWAB juga berbasis di sana.

3. Pemerintah kota Bandung sangat mendukung inisiatif teknologi

        Ridwan Kamil mungkin baru saja menjabat sebagai walikota delapan bulan yang lalu, tetapi dalam waktu yang singkat itu ia telah membuat perubahan yang signifikan terkait sikap pemerintah terhadap penggunaan teknologi. Ia menyebutkan lima pilar ‘kota pintar’ dalam rencananya: infrastruktur teknologi, pemerintahan yang berorientasi teknologi, pemerintahan yang terbuka, pemberdayaan, dan “teknopolis” (lebih lanjut tentang ini di bawah). 
Dalam delapan bulan terakhir, pemerintah kota Bandung telah memasang sekitar 5.000 hotspot wi-fi yang tersebar di seluruh kota. Target mereka tahun ini adalah memasang hingga 40.000 hotspot untuk memastikan lebih banyak warga Bandung yang bisa online. Pemerintah juga mempersiapkan “layanan publik Google of Bandung”, yang memungkinkan pengguna mengakses berbagai layanan publik secara online. Layanan ini termasuk sistem pengaduan online yang membantu mengurangi korupsi di Bandung, dan jugae-Kelurahan, yang memungkinkan warga untuk men-download formulir publik secara online sehingga tidak harus pergi ke departemen terkait untuk sekedar mendapatkan formulir.
Pemerintah kota Bandung sangat terbuka untuk bekerja sama dengan berbagai pihak guna mengembangkan semua jenis solusi online. Salah satu bentuk kerjasama tersebut adalah dengan perusahaan informasi dan komunikasi terbesar di Indonesia, Telkom, dengan mengembangkan e-Puskesmas, sebuah manajemen sistem informasi online bagi para praktisi kesehatan. Pemerintah juga menggunakan database visual buatan mahasiswa yang menampilkan aset tanah Bandung.

4. Selanjutnya – menjadi Silicon Valley-nya Indonesia

        Ridwan Kamil mengatakan bahwa seperti Singapura, Bandung tidak memiliki sumber daya alam yang bisa diandalkan. Jadi mereka harus mengandalkan kekuatan sumber daya manusia untuk memajukan kota – dan bangsa – ke tingkat berikutnya. Salah satu proyek besar yang mereka kerjakan bernama Teknopolis, yang diharapkan bisa menjadi Silicon Valley-nya Indonesia di masa depan.
Bandung telah menyiapkan lahan seluas 800 hektar di wilayah Gedebage. Total investasi untuk proyek ini sekitar USD 800 juta. Pemerintah kota Bandung saat ini tengah mencari investasi dari sejumlah pihak untuk mendukung proyek ini, dan akan memindahkan pusat pemerintahan kota Bandung ke Gedebage ketika proyek Teknopolis selesai.
Sejauh ini Ridwan Kamil telah mengumumkan bahwa produsen komponen pesawat asal Amerika Serikat UTC Aerospace Systems tertarik untuk bergabung dan bersedia untukberinvestasi hingga Rp 9 triliun. Walikota Bandung juga melakukan diskusi dengan Duta Besar AS di Indonesia, Robert Blake, mengenai proyek tersebut. Proyek ini diharapkan akan selesai pada tahun 2015.

5. Kuliner yang lezat dan cuaca yang bagus

        Dijuluki sebagai Paris of Java, Bandung memiliki banyak hal untuk ditawarkan kepada wisatawan dan pengunjung dari seluruh dunia, Ridwan Kamil menjelaskan. Kota ini memiliki berbagai macam kuliner lezat, banyak butik fashion sebagai tujuan berbelanja, dan iklim yang lebih dingin dibanding Jakarta karena datarannya yang tinggi.
Baru-baru ini pemerintah kota Bandung menerima penghargaan ‘kota sehat’ dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia berkat upaya kota Bandung dalam mendaur ulang sampah rumah tangga menjadi pupuk kompos untuk pertanian dan proyek hijau lainnya. Bandung juga dianggap salah satu kota paling kreatif di Asia.

KOTA BANDUNG TERPILIH MENJADI FINALIS SMART CITY DI BARCELONA

Finalis_Smartcity3.jpg
        Kota Bandung mewakili Indonesia terpilih masuk finalis 6 besar dunia untuk Inovasi Smart City dari World Smart City Organisation di Barcelona. Ibu Kota Jawa Barat tersebut bersaing dengan lima kota besar di dunia.
Lewat akun Facebook pribadinya, Walikota Bandung mengatakan jika Bandung bersaing dengan kota Moskow, Dubai, Buenos Aires, Curitiba dan Peterborough.
“Alhamdulillah, dari puluhan kota-kota dunia, Bandung masuk finalis 6 besar dunia untuk inovasi Smart City dari World Smart City Organization di Barcelona,”ujarnya lewat laman Facebook miliknya, Rabu (18/11).
Penyelenggara World Smart City OrganiZation menganggap Kota Bandung banyak memberikan ruang terhadap warganya untuk bisa mengawsi pembangunan kota dengan cara inovasi.
“Kota Bandung diapresiasi karena banyak memberikan ruang warga untuk berinterkasi aktif dalam mengawasi pembangunan kota dengan inovasi “connected citizens: encouraging participatory governance”,”ungkapnya.
Ridwan Kamil menjelaskan jika konsep smart city yang di tawarkan oleh Bandung antara lain: citizen complaint online, Rapor camat/lurah oleh warga (SIP), monitoring program kerja Pemkot (Silakip), Perizinan Online (Hay.U), komunikasi aktif warga melalui akun Twitter tiap Dinas dan lain-lain.
“World Smart City Awards” diselenggarakan dengan tujuan mengenali proyek atau program pelopor terhadap perkembangan kota. Selain itu, menstimulasi kota untuk terus tumbuh menjadi tempat berkelanjutan, efisien, ekonomis, dan layak huni.
Selain penghargaan untuk Kota Cerdas atau city award, tiga penghargaan lainnya adalah project award, innovative idea award, dan honorary award.
Pemberian “World Smart City Awards 2015” dilaksanakan di Barcelona, Spanyol pada 18 November 2015 waktu setempat.
Anugerah Media Humas
        Dinas Komunikasi dan Informatika (diskominfo) Kota Bandung mendapatkan dua penghargaan dalam Anugerah Media Humas 2015 di Gedung Dyandra Conventions Center Surabaya, Rabu (18/11). Penghargaan didapatkan Kota Bandung melalui kategori cinderamata utama dan profil lembaga terbaik sebagai terbaik ke-2.
Ajang penghargaan yang dicanangkan oleh Badan Koordinasi Kehumasan (Bakohumas) Tingkat Nasional ini berlangsung sejak Selasa 17 November. Acara dibuka Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Yuddy Chrisnandi dan ditutup oleh Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara.
Terdapat enam kategoriyang dilombakan, yakni meliputi: Penerbitan media internal, Laporan Kerja Humas 2014, Pelayanan Informasi melalui internet, Advertorial, Merchandise utama dan peserta terbaik dalam Bakohumas Expo.

Dukung perkembangan smart city, Huawei integrasikan Safe City di Bandung

Muhammad-Rosidi-saat-konferensi-pers-Huawei-Safe-City-Rabu-145-kemarin
Tren smart city di era serba digital seperti sekarang ini mulai berkembang menjadi tolok ukur dan faktor pembangunan di berbagai negara berkembang, termasuk juga Indonesia. Beberapa perusahaan yang bergerak di ranah penyediaan solusi jaringan dan korporat, mulai melirik bidang ini.
Salah satunya adalah Huawei yang mengusung layanan Safe City. Melalui solusi tersebut, perusahaan asal China ini mengharapkan dapat menunjang segala aktifitas, termasuk e-governmente-ticketing dalam sistem transportasi, rumah dengan teknologi terintegrasi, dan layanan darurat lainnya.
Smart city sebenarnya payung besar yang di dalamnya ada banyak aspek. Contoh gampangnya kalau dulu orang mengirim surat lewat pos, namun sekarang berkembang melalui email atau SMS,” jelas Mohamad Rosidi, GM Solution Consulting Huawei Indonesia saat konferensi pers di Jakarta, Rabu (15/4) kemarin.
Secara garis besar, konsep smart city mengajak pemerintah di daerah setempat untuk terlibat lebih aktif dalam penataan dan pengawasan kota. Implementasismart city secara menyeluruh akan menuntut pemerintah membangun sebuahcommand center (pusat komando) yang akan mengawasi berbagai aspek.

Salah satu upaya mendukung infrastruktur milik pemerintah

Dari command center ini, pemerintah bisa mengawasi berbagai fasilitas publik, sekaligus menghimpun informasi untuk dianalisis lebih lanjut. Secara lebih spesifik, salah satu jaminan yang ditawarkan dari solusi Safe City adalah pengawasan melalui video, dengan memanfaatkan sistem yang jauh lebih pintar dan tampilan yang lebih jelas, serta keamanan data, dan layanan yang lebih efisien.
Terkait infrastruktur pendukung, Huawei mengatakan bahwa smart citysetidaknya memerlukan 5 infrastruktur, yakni eLTE, fiber optik, ethernet, DSL, dan WiFi. Dari situ, penduduk satu kota dan pemerintahnya bisa mendapatkan akses informasi yang mudah dari mana saja, termasuk secara nirkabel.
Informasi yang dihimpun command center dapat digunakan untuk pengambilan keputusan dan eksekusi secara cepat. Penerapan kota cerdas secara menyeluruh akan berdampak pada aspek keamanan, kesehatan, olahraga, bahkan hingga kinerja pemerintahan.
huawei-kerja-sama-dengan-pins-telkom-smart-city-bandung-indonesia
Dalam cakupan global, solusi Safe City dari Huawei telah bisa dinikmati oleh sekitar 400 juta orang di lebih dari 100 kota dan lebih dari 30 negara. Di Indonesia sendiri, mereka berkongsi dengan PT PINS Indonesia yang merupakan anak perusahaan PT Telkom Indonesia. Kota Bandung menjadi pilot project Safe City antara Huawei dan Telkom. Buah kolaborasi keduanya akan digunakan untuk mendukung kelancaran dan keamanan selama Konferensi Asia Afrika (KAA) 2015 yang juga berlokasi di Bandung.
Ketika ditanya kota lainnya yang akan dikembangkan menjadi Safe City, Rosidi masih belum mengungkapkan lebih lanjut. Ia hanya mengatakan bahwa Huawei menargetkan kota-kota besar lainnya di Indonesia.

Telkom wujudkan Bandung Smart City

300913_rhn-bisnis-02-bandung-smart-city
       Bekerja sama dengan PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk (Telkom), Pemerintah Kota Bandung akan menyulap Kota Bandung menjadi “Smart City”. Bandung akan memiliki koneksi terintegrasi dalam berbagai bidang mulai dari transportasi, pelayanan publik, bahkan hingga tempat ibadah, untuk memberi dampak praktis dan efisien dalam pengelolaan kota. Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil, mengatakan konsep smart city ini bertujuan untuk mempermudah segala urusan dengan dukungan konektivitas tinggi dari pemanfaatan teknologi informasi (TI). Konsep ini, pertama kali diterapkan di ‘Kota Kembang’.  
“Saya ingin seperti Seoul (Ibu Kota Korea Selatan) yang memiliki koneksi tinggi,” ujarnya pada acara penandatanganan kerja sama antara Telkom dengan Pemkot Bandung di Pendopo Kota Bandung, Senin (30/9).   Ridwan Kamil, bersama General Manager Telkom Wilayah Jabar Tengah, Binuri, dan Direktur IT Solution Strategic Portfolio Telkom, Indra Utoyo, menunjukkan mock up smart card usai penandatanganan kesepakatan bersama dalam rangka pengembangan dan implementasi Bandung Smart City.   Dalam kerja sama ini, terdapat 5 aspek yang menjadi bidikan meliputi partiwisata dan transportasi, pelayanan publik dan bisnis, pendidikan dan kesehatan, serta pengelolaaan pemerintah.
“Telkom berkomitmen untuk mewujudkan Bandung Juara, sebagai kota yang nyaman dan unggul,” kata Indra Utoyo.   GM Telkom Bandung, Binuri menyatakan konsep smart city sejalan dengan program 2 juta WiFi di Indonesia pada 2015. Program itu diantaranya meliputi pendidikan, dan publik area. Saat ini, pihaknya telah membangun 5.000 titik wifii yang tersebar di Kota Bandung. Setiap titik memiliki sekitar 3-4 wifii.
“Target kami, 100.000 WiFi di Kota Bandung pada 2014,” jelasnya.   Selain akses penyediaan akses internet di ruang publik, Pemkot Jabar juga berencana menerbitkan kartu pintar, yang nantinya dapat digunakan masyarakat untuk membayar tarif trasportasi seperti angkot, bus, dan lainnya.   Indra Utoyo menilai Kota Bandung merupakan salah satu kota strategis, namun masih terjerat segudang permasalahan mulai dari sosial, ekonomi dan lainnya. Untuk itu, pihaknya berupaya menghadirkan ICT yang akan menjadi solusi efektif mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut.  
Sumber : 
SURABAYA
Kota Surabaya adalah ibu kota Provinsi Jawa Timur. Yang terletak dikoordinat 7°16′LU 112°43′BT, dengan luas wilayah 374.8 km2 (144.7 mil²), yang menjadikan Surabaya sebagai kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta , dengan jumlah penduduk metropolisnya yang mencapai 3 juta jiwa. Pada saat ini surabaya dipimpin oleh walikota yaitu Ir.Tri Rismaharini, M.T, yang merupakan wanita pertama yang terpilih sebagai Wali Kota Surabaya sepanjang sejarahnya. Insinyur lulusan Arsitektur dan pasca sarjana Manajemen Pembangunan Kota Institut Teknologi Sepuluh Nopember.Di masa kepemimpinannya di DKP, hingga menjadi wali kota, Surabaya menjadi lebih asri dan tertata dengan baik dibandingkan sebelumnya, lebih hijau dan lebih segar.Taman-taman kota yang dibangun Risma adalah pemugaran taman bungkul di Jalan Raya Darmo dengan konsep all-in-one entertainment park, taman di Bundaran Dolog, taman buah Undaan, serta taman di Bawean, dan di beberapa tempat lainnya yang dulunya mati sekarang tiap malam dipenuhi dengan warga Surabaya. Selain itu Risma juga membangun jalur pedestrian dengan konsep modern di sepanjang jalan Basuki Rahmat yang kemudian dilanjutkan hingga jalan Tunjungan, Blauran, dan PanglimaSudirman.Di bawah kepemimpinannya, Kota Surabaya meraih tiga kali piala adipura yaitu tahun 2011, 2012, dan 2013 kategori kota metropolitan. Selain itu, kepemimpinan Tri Risma juga membawa Surabaya menjadi kota yang terbaik partisipasinya se-Asia Pasifik pada tahun 2012 versi Citynet atas keberhasilan pemerintah kota dan partisipasi rakyat dalam mengelola lingkungan.
Dalam rilis Pemerintah Kota Surabaya yang diterima Kompas menyebutkan d alam ajang tersebut Surabaya meraih 3 dari 4 penghargaan yaitu Smart Governance, Smart Living dan Smart Environment setelah menyisihkan 59 peserta lain dari 33 pro vinsi di Indonesia.Bagian dari penjurian tersebut, tim penilai telah mengunjungi Surabaya pada Juli lalu, untuk melihat seberapa jauh pengimplementasian konsep kota pintar. Adapun faktor dan indikator yang dinilai dan menjadi penentu kemenangan Surabaya di ajang tersebut adalah Smart Governance, meliputi antara lain keterlibatan publik dalam pengambilan keputusan, sistem administrasi kependudukan, sistem administrasi p erijinan, partisipasi warga dan sistem monitoring area publik.Smart Living antara lain tentang p enerimaan murid baru o nline, SIM sekolah o nline, portal p ariwisata, CCTV pemantau lalu lintas dan fasilitas wifi gratis di tempat publik. Sementara Smart Environment di antaranya meliputi sistem peringatan d ini bencana,sistem pengolahan sampah berbasis teknologi informasi dan sistem monitoring aiir berbasis TI .
Perkembangan Surabaya Menuju Smart City
Kemunculan Smart City merupakan hasil dari gabungan modal sumberdaya manusia (contohnya angkatan kerja terdidik), modal infrastruktur (contohnya fasilitas komunikasi yang berteknologi tinggi), modal sosial (contohnya jaringan komunitas yang terbuka) dan modal entrepreuneurial (contohnya aktifitas bisnis kreatif). Pemerintahan yang kuat dan dapat dipercaya disertai dengan orang-orang yang kreatif dan berpikiran terbuka akan meningkatkan produktifitas lokal dan mempercepat pertumbuhana ekonomi suatu kota.Komponen-komponen penting dalam konsep Smart City ini meliputi 3komponen yaitu: teknologi (hard infrastructure maupun soft infrastructure), manusia (kreatifitas, pendidikan), dan institusi (pemerintahan dan kebijakan) (Nam & Pardo, 2011). Hubungan dari ketiga faktor ini dapat menciptakan Smart City, yaitu ketika investasi pada modal manusia/sosial dan infrastruktur dengan teknologi informasi dan komunikasi dapat mendorong pembangunan berkelanjutan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya dengan disertai pemerintahan yang partisipatif.
Seperti yang diketahui surabya memenangkan penghargaan smarrt city award tahun 2011 yang diadakan oleh majalah Warta Ekonomi. Kota Surabaya pasti telah melakukan manajemen-manajemen kota yang lebih baik daripada kota-kota lain di Indonesia sehingga dapat meningkatkan performa kota yang pada akhirnya mengantarkan Surabaya untuk memenangkan Smart City Awards 2011. Kota ini memang merupakan kota besar di Indonesia memiliki permasalahan-permasalahan yang terkait dengan kepadatan kota, sehingga Pemerintah Kota Surabaya ingin melakukan pembangunan dan manajemen kota yang lebih baik. Arahan-arahan pembangunan kotanya memiliki tujuan untuk memberikan kenyamanan dan kesejahteraan bagi masyarakatnya, tidak secara sengaja ingin menggunakan konsep Smart City yang sudah ada. Akan tetapi ternyata pada perkembangannya, arahan pembangunan kota yang dilakukan oleh pemerintah Kota Surabaya sesuai dengan prinsip-prinsip Smart City. Smart City memiliki 6 dimensi yang harus dipenuhi untuk mewujudkannya. Oleh karena itu, untuk melihat proses pembangunan kota menuju Smart City yang dilakukan Surabaya akan dilihat bagaimana tiap dimensi tersebut diwujudkan di Kota Surabaya. Keenam dimensi Smart City tersebut yaitu smart economy, smart people, smart governance, smart mobility, smart environment, dan smart living. Dalam pembangunan dan pengelolaan kota, melihat penerapan di beberapa kota, dapat dilihat bahwa ada dua jenis pendekatan yang dilakukan sebuah kota dalam menerapkan konsep Smart City. Dua pendekatan tersebut adalah pendekatan holistik dan pendekatan sektoral. Pendekatan holistik berarti bahwa pembangunan dan pengelolaan kota dengan konsep Smart City, khususnya pada pemanfaatan teknologi untuk memudahkan dan memberi kenyamanan masyarakat kota dilakukan pada semua dimensi, dimulai secara bersamaan. Sedangkan pendekatan secara sektoral dilakukan dengan fokus pada satu dimensi terlebih dahulu, misalnya dalam manajemen limbah, atau untuk efisiensi energi.
Di Kota Surabaya, dari hasil grand tour yang sudah dilakukan, kemungkinan besar Kota Surabaya ini menggunakan pendekatan yang holistik dalam pembangunan kotanya menuju Smart City. Hal ini dilihat dari program-program pembangunannya yang pada dasarnya memang tidak berfokus pada satu dimensi, namun dari semua dimensi dibangun, sesuai dengan kebutuhan ataupun permasalahan yang ada. Kota Surabaya telah berupaya memanfaatkan teknologi dalam semua dimensi, sebagai suatu sarana untuk mempermudah aktifitas di dalam kota, baik bagi kinerja pemerintahnya sendiri, maupun mempermudah pelayanan bagi masyarakat Kota Surabaya.Berdasarkan analisis deret waktu yang dilakukan,hingga penelitian ini dilakukan ada 4 fase yang sudah dilakukan oleh Surabaya. Setelah fase keempat, masih belum diketahui apa fase selanjutnya karena ini masih dalam proses menuju Smart City.

  • Fase 1: PEMBENAHAN INTERNAL PEMERINTAH (2003-2005)
Dalam fase pertama ini, pembenahan kinerja pemerintah menjadi fokus utama. Hal ini dilatarbelakangi oleh kondisi Kota Surabaya saat itu memang sedang dalam krisis politik dan kinerja pegawai Pemerintah Kota yang buruk sehingga kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah sangat rendah. Perubahan kemudian dimulai dengan adanya walikota baru, yaitu Bambang Dwi Hartono,yang memiliki ambisi untuk memperbaiki kinerja pemerintah dan memiliki perhatian yang lebih pada pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Pembenahan kinerja pemerintah ini dilakukan dengan memperbaiki skill pegawai pemerintah dan peningkatan kinerja pemerintah dengan memanfaatkan Fase ini juga ditandai dengan pemanfaatan TIK yang masih dominan dalam lingkup internal Pemerintah Kota Surabaya sebagai suatu sarana membangun sistem pemerintahan yang lebih baik. Penggunaan TIK yang masih dalam lingkup pemerintah kota ini juga yang membedakan fase ini dengan fase
  • Fase 2: PENGUATAN MODAL SOSIAL (2006-2008)
Pada fase 2 ini fokus dari program-program pembangunan adalah untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat dan penyiapan masyarakat agar bisa memanfaatkan TIK. Selain dua fokus tersebut, program pemerintah juga terkait pada masalah prioritas saat itu, yaitu perbaikan kondisi lingkungan Kota Surabaya. Oleh karena itu, program-program yang dilakukan Pemerintah Kota Surabaya yaitu 1) pembentukan kader dan fasilitator lingkungan sebagai upaya pengembalian kepercayaan masyarakat dan upaya memperbaiki kondisi lingkungan, 2) peresmian kampung-kampung unggulan sebagai upaya mengembalikan kepercayan masyarakat, 3) pembangunan Broadband Learning Center (BLC) untuk menyiapkan masyarakat melek teknologi, dan 4) diseminasi informasi secara aktif kepada masyarakat. Seiring dengan program-program tersebut, peningkatan kinerja pemerintah juga tetap berlanjut. Berbagai sistem TIK dikembangkan di dalam pemerintah Kota Surabaya, baik sistem untuk meningkatkan kinerja pemerintah, maupun aplikasi yang dipersiapkan untuk pelayanan publik nantinya. Selain itu juga pembangunan infrastruktur tetap terus dilakukan sehingga jaringan TIK bisa mencapai level kelurahan.
  • Fase 3: PENGEMBANGAN LAYANAN EKSTERNAL PEMERINTAH (2009-2010)
Fase ketiga merupakan fase yang berfokus pada pengembangan pelayanan publik berbasis TIK ketika masyarakat sudah dianggap lebih siap terhadap teknologi. Pemerintah Kota Surabaya berambisi untuk memberikan pelayanan yang lebih baik, lebih cepat, dan lebih mudah dengan bantuan teknologi. Pelayanan publik yang dikembangkan adalah dalam bidang pendidikan dengan aplikasi Digischool, pelayanan akses internet gratis kepada masyarakat, pemanfaatan media-media jejaring sosial (facebook dan twitter) dalam mendiseminasikan informasi.
  • Fase 4: PENGEMBANGAN LAYANAN KOTA BERBASIS TEKNOLOGI TINGGI
Pada fase ini, Pemerintah Kota Surabaya sudah mulai menggunakan infrastruktur-infrastruktur yang lebih canggih untuk menuju Smart City. Hal ini juga dipengaruhi oleh adanya konsep Smart City yang telah berkembang di mana terdapat penggunaan sensor-sensor dalam suatu sistem transportasi. Hal ini mendorong Kota Surabaya untuk mengembangkan sistem penanggulangan bencana SEARS (Surabaya Early Warning System), Sistem transportasi cerdas ITS-ATCS, dan pengolahan sampah menjadi energi. Penggunaan TIK juga semakin banyak dan terus dikembangkan dengan beragam aplikasi dan layanan berbasis teknologi.
Pembangunan Kota Surabaya pada dasarnya telah mencakup enam dimensi yang dikemukakan oleh Griffinger (2007) yaitu smart economy, smart people, smart governance, smart mobility, smart environment, dan smart living. Prosesnya memang bertahap, disesuaikan dengan kondisi kota saat itu (misalnya: prioritas masalah, kesiapan masyarakat, anggaran) sehingga prosesnya terkesan lambat. Pembangunan Kota Surabaya juga tidak bersifat sektoral, namun lebih menggunakan pendekatan holistik, secara perlahan namun pada semua dimensi. Dari kasus Surabaya ini dimensi yang lebih dahulu digarap adalah smart governance dan smart people yang menjadi modal dasar pembangunan menuju Smart City.
Jika memposisikan hasil temuan penelitian ini terhadap teori atau konsep yang sebelumnya, beberapa temuan dalam penelitian ini mendukung konsep yang sudah ada. Tiga pondasi awal dari hasil penelitian yaitu teknologi, masyarakat, dan pemerintah (sebagai institusi) mendukung konsep Nam & Pardo (2011) yang menyatakan bahwa komponen penting Smart City adalah teknologi, manusia, dan institusi. Selain itu, terkait dengan kinerja pemerintah, Pembenahan kinerja pemerintah sebagai pondasi awal juga mendukung konsep Kourtit & Nijkamp (2012) yang menyebutkan bahwa pemerintah yang kuat, dapat dipercaya disertai orang-orang yang kreatif dan berpikiran terbuka merupakan dukungan yang kuat menuju Smart City.
Denpasar
sebagai jawaban atas tantangan global, terutama dibukanya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Sejak tahun 2015 melalui Dinas Komunikasi dan Informatika, pemerintah kota Denpasar resmi menerapkan layanan sistem terpadu. Sistem pelayanan ini dapat dengan mudah diakses masyarakat karena telah mendukung akses via teknologi mobile.
Selain kemudahan bagi warga dalam menggunakan layanan yang telah disediakan oleh pemerintah.  Berkat penerapan sistem informasi terintegrasi pula produk-produk pun destinasi wisata di seluruh penjuru Kota Denpasar dapat semakin ­berkembang pesat. Untuk mengetahui lebih dekat tentang penerapan teknologi informasi di Kota Denpasar yang tengah serius melangkah menjadi salah satu smartcity di Indonesia. Berikut kami sajikan ulasannya.
1. Taman Digital Lumintang
taman digital lumintan
Buah hasil kerjasama antara Pemerintah Kota Denpasar dengan PT. Telkom adalah menyediakan wifi di kurang lebih 50 titik umum di penjuru kota Denpasar, salah satunya di Lapangan Lumintang. Lapangan kota yang disulap menjadi taman edukasi ini berlokasi di depan Gedung Sewaka Dharma yang merupakan Kantor Pemerintahan. Fasilitas wifi yang tersedia di tempat ini dapat dengan mudah dan murah dimanfaatkan oleh warga kota.
2. Pengaduan Rakyat Online
pro denpasarAplikasi PRO DENPASAR ini merupakan aplikasi berbasis website maupun android yang bersifat dua arah sehingga dapat meningkatkan partisipasi publik. Berperan sebagai alat bantu untuk melakukan monitoring dan verifikasi program pembangunan, serta pengaduan masyarakat di Kota Denpasar. Masyarakat umum dapat memberikan laporan mengenai masalah di Kota Denpasar untuk kemudian tim verifikasi PRO DENPASAR akan meninjau dan memposisikan laporan tersebut kepada instansi terkait untuk segera ditindaklanjuti.
3. Smart Digital Lounge untuk Pelajar
smart digital lounge bali
Lounge digital yang dikelola secara professional oleh Masyarakat Industri Kreatif TIK Indonesia (MIKTI) Kota Denpasar serta Balai Diklat Industri Denpasar bertujuan untuk mewadahi mereka pelaku technopreneur baik yang menjalankan secara professional maupun yang sedang dalam tahap belajar. Sehingga industri technopreneur seperti games, edutainment, music, animation, maupun software solutions dapat tumbuh subur di Denpasar dan sekitarnya.
4. Denpasar Trading
NEW YORK - JULY 24: A trader looks over computer monitors showing financial data on the floor of the New York Stock Exchange July 24, 2008 in New York City. Stocks declined sharply in the major indexes, with the Dow Jones average falling over 200 points on news of steep decline in exhisting home sales and a rise in oil prices. (Photo by Chris Hondros/Getty Images)Bali Denpasar Trading adalah sebuah laman e-commerce yang dikelola oleh Dinas Perdagangan dan Perindustrian Denpasar. Katalog barang-barang yang dijual pada laman tersebut adalah hasil karya industri kreatif dari seluruh Bali. Mulai dari herbal, aksesoris, perhiasan, kain, bahkan ukiran. Informasi tiap-tiap item yang dijual pun lengkap. Info detail seperti warna, ukuran, berat, hingga bahan juga turut disampaikan. Melalui laman ini tidak hanya pembeli dari lokal semata yang dimudahkan, lebih dari itu buyer dari luar untuk mencari barang yang diinginkan. Hal ini tentu membuka peluang pasar yang lebih luas lagi bagi seluruh pelaku bisnis dan industri kreatif di Bali. Denpasar Trading merupakan salah satu strategi pemerintah kota Denpasar dalam mempersiapkan pelaku industrinya guna menghadapi masyarakat ekonomi Asean.

Aplikasi yang dapat dijadikan pegangan saat ingin jalan-jalan di Denpasar ini melengkapi Denpasar sebagai sebuah smart city. Melalui aplikasi ini wisatawan lokal, maupun mancanegara dapat dengan mudah menemukan tempat wisata, tempat bersejarah, kuliner, penginapan, pusat kerajinan, pementasan, hingga event-event yang berlangsung di seluruh penjuru Denpasar. Aplikasi berbasis Android besutan Gamatechno ini  dilengkapi navigasi map dan informasi hotel terdekat dari lokasi event sehingga memudahkan wisatawan yang berkunjung. Tak ketinggalan, aplikasi Denpasar Sightseeing juga dilengkapi dengan fitur sosial media yang memungkinkan penggunanya mengabadikan, dan berbagi moment saat menjelajahi Denpasar.
Saat ini kota yang menjadi ibu kota provinsi Bali tersebut masih terus berbenah menjadi salah satu smart city di Indonesia. Denpasar tengah membuat segala aspek kehidupan warganya menjadi lebih cerdas melalui teknologi informasi. Mulai dari pemerintahan, perekonomian, kesehatan, lalu lintas, lingkungan, hingga warga kotanya sendiri. Dengan langkah pasti Denpasar ini menambah daftar panjang kota yang melangkah menjadi smart city Indonesia.
sumber : https://blog.gamatechno.com/smart-city-indonesia-kota-denpasar-menuju-smart-city/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar