MENGENAL
FIREWALL
A.
Sejarah
Firewall
Penggunaan
firewall untuk keperluan sekuriti (security firewall) pertama kali digunakan
pada awal dekade 1990 an, berupa router IP dengan aturan filter tertentu.
Aturan sekuriti saat itu berupa sesuatu seperti: ijinkan setiap orang “disini”
untuk mengakses “keluar sana” , juga cegahlah setiap orang (atau apa saja yang
tidak disukai) “diluar sana” untuk masuk “kesini”. Firewall semacam ini cukup
efektif, tetapi memiliki kemampuan yang terbatas.
Firewall
generasi selanjutnya lebih fleksibel, yaitu berupa sebuah firewall yang
dibangun pada apa yang disebut “Bastion Host”. Firewall komersial yang pertama
dari tipe ini, yang menggunakan filter dan gateway aplikasi (proxies),
kemungkinan adalah produk dari Digital Equipment Corp (DEC).
Firewall
komersial pertama di konfigurasi untuk, dan dikirimkan kepada pelanggan
pertamanya, sebuah perusahaan kimia besar yang berbasis di pantai timur AS pada
13 Juni 1991. Dalam beberapa bulan kemudian, Marcus Ranum dari Digital Corp.
Menciptakan security proxies dan menulis ulang sebagian besar kode program
firewall. Produk firewall tersebut kemudian diproduksi massal dengan nama
dagang DECSEAL (singkatan dari Security External Access Link). DECSEAL tersusun
atas sebuah sistem eksternal yang disebut gatekeeper sebagai satu satunya
sistem yang dapat berhubungan dengan internet, sebuah filtering gateway yang
disebut gate, dan sebuah mailhub internal.
Firewall
untuk pertama kalinya dilakukan dengan menggunakan prinsip “non routing” pada
sebuah Unix host yang menggunakan 2 buah network interface card, network
interface card yang pertama dihubungkan ke internet (jaringan lain) sedangkan
yang lainnya dihubungkan ke PC (jaringan lokal) (dengan catatan tidak terjadi
“route” antara kedua network interface card di PC ini).
B. Definisi Firewall
Firewall
didefinisikan sebagai suatu cara atau mekanisme yang diterapkan baik terhadap
hardware, software ataupun system itu sendiri dengan tujuan untuk melindungi,
baik dengan menyaring, membatasi atau bahkan menolak suatu atau semua
hubungan/kegiatan suatu segmen pada jaringan pribadi dengan jaringan luar yang
bukan merupakan ruang lingkupnya.
Ilmuwan
lain mendefinisikan firewall sebagai sebuah titik diantara dua/lebih jaringan
dimana semua lalulintas (trafik) harus melaluinya (choke point); trafik dapat
dikendalikan oleh dan diautentifikasi melalui sautu perangkat, dan seluruh
trafik selalu dalam kondisi tercatat (logged). Dari beberapa definisi diatas,
penulis dapat memberikan definisi dimana firewall adalah sebuah pembatas antara
suatu jaringan local dengan jaringan lainnya yang sifatnya public (dapat
diakses oleh siapapun) sehingga setiap data yang masuk dapat diidentifikasi
untuk dilakukan penyaringan sehingga aliran data dapat dikendalikan untuk
mencegah bahaya/ancaman yang dating dari jaringan publik.
C. Tujuan Penggunaan Firewall
a. Firewall
biasanya digunakan untuk mencegah atau mengendalikan aliran data tertentu.
Artinya, setiap paket yang masuk atau keluarakan diperiksa, apakah cocok atau
tidak dengan kriteria yang ada pada standar keamanan yang didefinisikan dalam
firewall.
b. Untuk
melindungi dengan menyaring, membatasi atau bahkan menolak suatu atau semua
hubungan/kegiatan suatu segmen pada jaringan pribadi dengan jaringan luar yang
bukan merupakan ruang lingkupnya. Segmen tersebut dapat merupakan sebuah
workstation, server.
c. Penggunaan
firewall yang dapat mencegah upaya berbagai Trojan horses, virus, phishin,
spyware untuk memasuki system yang dituju dengan cara mencegah hubungan dari
luar, kecuali yang diperuntukan bagi computer dan port tertentu.
d. Firewall
akan memfilter serta mengaudit traffic yang melintasi perbatasan antara jaringan
luar maupun dalam.
Gambar 1.Gambaran kerja firewall
A. Teknik Dalam Firewall
·
Service control (kendali terhadap
layanan) Berdasarkan tipetipe layanan yang digunakan di Internet dan boleh
diakses baik untuk kedalam ataupun keluar 6 firewall. Biasanya firewall akan
mencek no IP Address dan juga nomor port yang digunakan baik pada protocol TCP
dan UDP, bahkan bisa dilengkapi software untuk proxy yang akan menerima dan
menterjemahkan setiap permintaan akan suatu layanan sebelum mengijinkannya.
Bahkan bisa jadi software pada server itu sendiri, seperti layanan untuk web
ataupun untuk mail.
·
Direction Conrol (kendali terhadap arah)
Berdasarkan arah dari berbagai permintaan (request) terhadap layanan yang akan
dikenali dan diijinkan melewati firewall.
·
User control (kendali terhadap pengguna)
Berdasarkan pengguna/user untuk dapat menjalankan suatu layanan, artinya ada
user yang dapat dan ada yang tidak dapat menjalankan suatu servis, hal ini
dikarenakan user tersebut tidak diijinkan untuk melewati firewall. Biasanya
digunakan untuk membatasi user dari jaringan local untuk mengakses keluar,
tetapi bisa juga diterapkan untuk membatasi terhadap pengguna dari luar.
·
Behavior Control (kendali terhadap
perlakuan) Berdasarkan seberapa banyak layanan itu telah digunakan. Misalnya,
firewall dapat memfilter email untuk menanggulangi/mencegah spam.
B.
Tipe-Tipe
Firewall
Packet Filtering
Router Firewall jenis ini memfilter paket data berdasarkan alamat dan pilihan
yang sudah ditentukan terhadap paket tersebut. Ia bekerja dalam level internet
protocol (IP) paket data dan membuat keputusan mengenai tindakan selanjutnya 9
(diteruskan atau tidak diteruskan) berdasarkan kondisi dari paket tersebut.
Firewall ini dapat digambarkan seperti gambar 2. Firewall jenis ini terbagi
lagi menjadi tiga subtipe:
ü
Static Filtering : Jenis filter yang
diiplementasikan pada kebanyakan router, dimana modifikasi terhadap aturan
aturan filter harus dilakukan secara manual.
ü
Dynamic Filtering : Apabila proses-proses
tertentu disisi luar jaringan dapat merubah aturan filer secara dinamis
berdasarkan eveneven tertentu yang diobservasi oleh router (sebagai contoh,
paket FTP dari sisi luar dapat diijinkan apabila seseorang dari sisi dalam
merequest sesi FTP).
ü
Stateful Inspection : Dikembangkan berdasarkan
teknologi yang sama dengan dynamic filtering dengan tambahan fungsi eksaminasi
secara bertingkat berdasarkan muatan data yang terkandung dalam paket IP.
Baik
dynamic maupun static filtering menggunakan table status (statetable) dinamis
yang akan membuat aturanaturan filter sesuai dengan even yang tengah
berlangsung. Ditambahkan bahwa kelemahan tipe ini adalah cukup rumitnya untuk
menyetting paket yang akan difilter secara tepat, serta lemah dalam hal
authentikasi. Adapun serangan yang dapat terjadi pada firewall dengan tipe ini
adalah:
§
IP address spoofing : Intruder
(penyusup) dari luar dapat melakukan ini dengan cara menyertakan/menggunakan ip
address jaringan local yang telah diijinkan untuk melalui firewall.
§
Source routing attacks : Tipe ini tidak
menganalisa informasi routing sumber IP, sehingga memungkinkan untuk membypass
firewall.
§
Tiny Fragment attacks : Intruder membagi
IP kedalam bagianbagian (fragment) yang lebih kecil dan memaksa terbaginya
informasi mengenai TCP header. Serangan jenis ini didesign untuk menipu aturan
penyaringan yang bergantung kepada informasi dari TCP header. Penyerang
berharap hanya bagian (fragment) pertama saja yang akan diperiksa dan sisanya
akan bisa lewat dengan bebas. Hal ini dapat ditanggulangi dengan cara menolak
semua packet dengan protocol TCP dan memiliki Offset = 1 pada IP fragment
(bagian IP)
Ø Koneksi
IP Sebuah frame yang diidentifikasi menggunakan
kelompok protokol Internet (IP) harus melalui aturan firewall yang
didefinisikan menggunakan protokol IP sebelum paket tersebut mendapat jawaban
koneksi dari tujuan paket tersebut.
Salah satu paket yang
merupakan kelompok protokol IP adalah ICMP, yang sering digunakan sebagai
aplikasi pengujian koneksi ( link ) antar host
Gambar 6. Sebuah Koneksi ICMP
Salah
satu paket yang merupakan kelompok protokol IP adalah ICMP, yang sering
digunakan sebagai aplikasi pengujian koneksi ( link ) antar host.
Ø Koneksi UDP
Berbeda dengan koneksi TCP, koneksi UDP bersifat connectionless . Sebuah mesin yang mengirimkan
paket UDP tidak akan mendeteksi kesalahan terhadap pengiriman paket tersebut.
Paket UDP tidak akan mengirimkan kembali
paket-paket yang mengalami error. Model pengiriman paket ini akan lebih efisien
pada koneksi broadcasting atau multicasting .
Ø Koneksi UDP
Berbeda dengan koneksi TCP, koneksi UDP
bersifat connectionless . Sebuah mesin yang mengirimkan
paket UDP tidak akan mendeteksi kesalahan terhadap pengiriman paket tersebut.
Paket UDP tidak akan mengirimkan kembali
paket-paket yang mengalami error. Model pengiriman paket ini akan lebih efisien
pada koneksi broadcasting atau multicasting .
|


Tidak ada komentar:
Posting Komentar